Thursday, December 6, 2007

Rela Berkorban



Oleh : Ian Suherlan

Setelah memecat gubernur Mesir karena kebijakannya merugikan rakyat, Khalifah Usman bin Affan mendapat ancaman serius. Elemen-elemen yang kecewa membuat konspirasi untuk melakukan perlawanan kepada Usman. Mereka pun mengepung rumah Usman.

Melihat kejadian itu, tokoh-tokoh senior Madinah sangat sedih dan mereka mengirim utusan kepada Usman. Mereka berkata, ''Wahai Amirul Mukminin, kami membela Nabi Muhammad dengan jiwa dan harta kami. Kedua khalifah pendahulumu juga menerima bantuan kami. Kami menawarkan bantuan tulus yang sama kepada Anda. Cukuplah Anda mengeluarkan perintah kepada kami dan kami akan membersihkan Kharijiyah (orang-orang yang kecewa) dari muka bumi.''

Pernyataan mereka membuat Usman sedih. ''Tidak! Tidak! Aku tidak bisa mengeluarkan perintah seperti itu, karena dosa seluruh manusia di dunia ini tidak akan melebihi dari dosa seorang Muslim yang pertama kali menggerakkan perselisihan di antara kaum Muslim dan karenanya terjadi pertumpahan darah. Aku tidak ingin menjadi Muslim yang pertama itu. Kalian akan bertindak sebagai sahabat sejatiku bila kalian menyarungkan pedang kalian,'' kata Usman.

Dengan rasa kecewa yang mendalam, para sahabat mematuhi perintah Usman. Beberapa orang di antara mereka mulai berjaga-jaga di depan gerbang rumah Usman. Namun, mereka tidak lagi mampu menyelamatkan nyawa Usman. Karena, suatu malam, dua orang Kharijiyah berhasil melompat masuk ke belakang rumah Usman, lalu menikam dada Usman dengan sebilah pisau. Usman terluka parah, dalam tempo singkat ia kehilangan tenaganya.

Dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar, ia sempat memanjatkan doa, ''Ya Allah Yang Maha Pengasih, sebagai ganti pembunuhanku ini, eratkan persaudaraan umatku,'' (Ebrahim Khan, Kisah-kisah Teladan Rasulullah, Para Sahabat, dan Orang-orang Saleh, Pustaka Pelajar, 2003). Peristiwa itu mengandung tiga hal yang patut diteladani. Pertama, perilaku pejabat yang merugikan rakyat akan menimbulkan gejolak. Kedua, memprovokasi tindak kejahatan akan menimbulkan mudarat yang lebih besar.

Ketiga, demi persatuan umat, Usman tidak mau membalas ancaman pihak-pihak yang tidak setuju dengan kebijakannya. Bahkan, dia rela menjadi korban agar pertumpahan darah yang lebih besar tak terjadi. Kesetiaan kaum Muslim membela jiwa raga Usman dan menyerang musuh-musuhnya, tidak menggoyahkan kehendak Usman untuk mempertahankan persatuan umat. Bagaimana dengan pemimpin masa kini? Wallaahu a'lam bish-shawab.

No comments: