Saturday, November 24, 2007

Rekonstruksi Islam Indonesia




ImageMeskipun telah banyak buku yang terbit dengan secara khusus mengulas dan membahas wacana wihdatul wujud, namun kebanyakan masih memandangnya sebagai sejarah penyimpangan dan masih meletakkan wacana tersebut dalam perdebatan filosofis dan teologis. Jadul Maula memberi perspektif yang lebih kontekstual mengenai wihdatul wujud di era kekinian, terutama dalam konteks rekonstruksi Islam Indonesia. Demikian wawancara redaksi dengan M. Jadul Maula, Ketua Yayasan LKiS



Dalam beberapa waktu terakhir anda tampak konsen mengangkat wacana Wihdatul Wujud sebagai pintu masuk rekonstruksi Islam Indonesia di banyak forum diskusi. Apa yang melatari anda menggulirkan kembali wacana ini di saat sekarang?

Begini, saya mulai dari ini saja, tanggal 4 Maret 2005 saya diskusi di LKiS tentang ‘asrutadwinIslam Indonesia dan tentang ta’sis itu, dan tanggal 5 Maretnya saya juga diskusi di Utan Kayu JIL, tentang masa depan pemikiran Islam. Menarik, ternyata saling berkaitan di luar dugaan saya juga. Saling berkaitan dalam arti begini, waktu itu teman-teman Jaringan Islam Liberal ( JIL) diwakili Ulil Abshor Abdalla mengatakan bahwa yang dihadapi dan menjadi tantangan para pemikir Islam sekarang tidak lagi berhadapan dengan masalah ideologis. Jadi masalah-masalah ideologis seperti hubungan agama dan negara itu sudah diselesaikan lumayan bagus oleh generasinya Gus Dur dan Cak Nur. Zaman sekarang ini semua relatif terbuka, semua orang bebas berekspresi tanpa ada hambatan ideologis, jadi masalah yang dihadapi pemikir Islam tinggal masalah kecil, mikroskopik. Seperti, Perda Syari’at Islam di berbagai daerah, lalu zaman mutakhir ini soal Kompilasi Hukum Islam, itu hal-hal, yang menurutnya bisa diselesaikan melalui studi ushul fiqh. Tapi saya tidak setuju terhadap pandangan itu. Menurut saya, ada masalah besar yang tengah dihadapi pemikir Islam saat sekarang yang mungkin tidak begitu kentara pada zamannya Gus Dur dan Cak Nur yaitu tentang nasib manusia di hadapan sistem ekonomi-politik. Kalau dikatakan sekarang ini ada ruang publik yang lebar dan bebas, itu sebenarnya mistifikasi. Mistifikasi ruang publik yang digembar-gemborkan seolah bebas. Semua warga negara bisa terlibat ambil peran di dalamnya. Mistifikasinya terletak pada penyembunyian fakta tentang dominannya pasar dan pemodal besar. Bahkan ruang publik yang dianggap terbuka itu, pada kenyataannya diciptakan oleh pasar.

Bagaimana anda bisa mengatakan demikian?

Saya ambil contoh kasus BBM. Setelah pemilihan presiden langsung yang seolah-olah rakyat bebas memilih untuk kepentingan mereka, tapi eksekutif yang terpilih kemudian menjalankan agendanya IMF dan World Bank bukan agendanya rakyat. BBM itu minyak Indonesia tapi patokan harganya dipatok pihak asing. Dan seandainya diadakan polling atau survei apakah masyarakat Indonesia setuju kenaikan BBM, saya rasa semua tidak setuju. Menurut saya, ini soal yang besar. Ini membutuhkan jawaban-jawaban dari para agamawan. Merupakan tanggung jawab etik agamawan untuk menyelamatkan nasib manusia ini, manusia yang teralienasi dari satu sistem yang dilegitimasinya sendiri. Sistem politik sekarang ini bagaimana pun rakyat kan

Apa kaitannya dengan Wihdatul Wujud dan rekonstruksi Islam Indonesia?

Untuk menghadapi tantangan-tantangan yang saya sebutkan tadi, menurut saya dibutuhkan jawaban-jawaban yang bisa menjawab di satu sisi soal kontemporer ini tapi di sisi yang lain mesti berakar pada karakter Islam Indonesia. Ini yang menjadi tantangan. Misalnya jawaban langsung HAM, gerakan HAM. ini problematis. Kita berkenalan dengan Islam dan HAM itu kanWihdatul Wujud untuk ditempatkan sebagai bagian dari sebuah pencarian. ini salah satu problem metodologi. Dalam pengembangan penulisan kita masih belum bertemu ta’sis, asrutadwinnya, itu titik tolaknya darimana? Sejarahnya seperti apa? Dan dasar pemikiran yang seperti apa? Nah saya mengajukan satu tesis, kita perlu mempertimbangkan Wihdatul Wujud ini, penulisan sejarah Wihdatul Wujud dan tempatnya dalam pembentukan karakter Islam Indonesia.

Apa yang anda bayangkan tentang penulisan ulang sejarah wihdatul wujud ini?

Dalam penulisan sejarah Wihdatul Wujud ini, kita harus keluar dari konstruksi mapan selama ini. Sejarah Wihdatul Wujud di Indonesia ini kan seolah-olah sejarah kekafiran, sejarah penyimpangan, fase murtad atau Pantheisme, sejarah tentang bid’ah atau sejarah tentang gerakan anti syari’at. Di dunia akademik Wihdatul Wujud dibicarakan hanya tentang filsafat, soal filsafat hidup atau jaringan sufisme, wacana sufisme dan seterusnya. Belum ada satu upaya untuk mensintesiskan itu untuk menguji dalam kasus peranan Wihdatul Wujud ini di Indonesia. Menurut saya, ini menarik untuk konteks Indonesia. Jadi di kala abad 13 sampai 14 peradaban Islam Arab itu hancur, rusak, lalu peradaban lari kedua tempat. Yang selama ini disorot peradaban itu lari ke Barat dalam bentuk Humanisme, pencerahan, tapi Humanisme ini juga berkembang sampai ke Indonesia pada abad ke-14 itu juga. Bedanya kalau Humanisme di Barat berkembang melalui penemuan rasio pencerahan dalam arti penemuan model Descartes, “aku berpikir maka aku ada”. Jadi manusia adalah akalnya. Di Indonesia, pada saat itu berkembang Humanisme juga tapi Humanisme Insan Kamil dan kalau dirumuskan begini, “karena semuanya tak ada, karena alam tak ada dan yang ada hanyalah tuhan, maka aku adalah Tuhan”. kira-kira begitu. Jadi Temanya sama tentang pembentukan manusia melawan mitos, melawan mistifikasi. Kalau di Barat melawan mistik melalui akal tapi kalau di sini justru melawan mistik melalui proses pembentukan manusia Misalkan manusia ada indera, indera di dalamnya ada akal, akal dibongkar di dalamnya ada nafsu-nafsu, ada nafsu muthmainnah, di belakangnya ada roh idhofi terus sampai nur Muhammad, sampai haqiqotul hakikat, sampai haqiqot al Muhammadiyah. Inikan ilmu Tuhan yang abadi, ilmu segala ilmu itu di sini di nur muhammad yang kemudian menjadi sumber penciptaan dunia, sumber penciptaan manusia dan nur Muhammad ini ada di manusia, di dalam manusia sehingga manusia menjadi jembatan bejana Tuhan melihat alam dan alam bertemu Tuhan. Kita tahu inikan sumbernya dari Ibnu Arabi. Ibnu Arabi merupakan satu titik penting sistematisasi paham ini yang kemudian menjadi sumber rujukan paham ini ke Persia dan kemudian nusantara.

Kenapa Wihdatul Wujud sering dicap anti Syari’at?

Jadi begini, penulisan sejarah Wihdatul Wujud di Indonesia selama ini banyak salah kaprah. Sejak dari Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, ar-Raniri, Abdur Rauf Singkil, Abdus Shomad al-Palembani, Syeikh Yusuf Makassar, sampai di Jawa itu ada Hasyim Asy’ari dan seterusnya itu ternyata semua Wihdatul Wujud. Mereka semua tidak anti syari’at. Mbah Hasyim Asy’ari mengatakan yang namanya ilmu Syari’at itu isinya dua, fiqh dan haqiqat, itu nggak bisa dipisah. Kalau mengajarkan ilmu syari’at hanya fiqh itu fasiq. Ilmu-ilmu syara’ ini baik fiqh maupun hakikat itu harus satu paket. Hamzah Fansuri mengatakan “as syariatu aqwali wal thoriqotu af’ali wal hakikotu ahwali”. Syari’at, thoriqat, hakikat dan makrifat itu satu paket. jadi nggak benar penulisan sejarah Wihdatul Wujud sebagai anti syari’at itu jelas nggak benar.

Wihdatul Wujud itu juga kan impor dari Islam Maghrib, lalu begaimana anda bisa mengatakan kalau itu khas Islam Indonesia?

Menurut saya, Wihdatul Wujud baru masuk dan dieksprimentasikan di nusantara pada abad ke-13. Salah satu keistemewaannya adalah mampu melahirkan sufi wali-wali orang nusantara asli. Seperti Hamzah Fansuri, dia ulama asli Aceh bisa menjadi ulama dan menulis karyanya dalam bahasa Melayu, demikian juga Samsuddin al-Sumatrani. Artinya Wihdatul Wujud ini menjadi jalan bagi orang lokal untuk bereksperimentasi menemukan Islamnya sendiri dan mengembangkan identitas Islam sendiri. Banyak ulama-ulama seperti Syeikh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging dan lain-lain. Mereka melahirkan satu model keulamaan yang melahirkan ilmu-ilmu yang lebih mandiri dan khas Indonesia, itu bisa dilihat sebagai karakter Islam Indonesia. Ini yang pertama. Kemudian di bidang politik pada abad 14,15, dan 16 menurut saya jasa Wihdatul Wujud ini adalah menyatukan kerajaan-kerajaan kecil menjadi satu besar. Di Aceh ditandai dengan berdirinya kerajaan Aceh abad 15/16. Tadinya kecil-kecil seperti Pasai, Pariinan, Kuamri dan sebagainya, kemudian menjadi Aceh Darussalam besar. Itu yang berjasa membikin satu undang-undang, satu ideologi dengan penataan antara adat dan syara’. Adat adalah aturan-aturan pemerintahan kerajaan-kerajaan yang sudah ada, di mana wewenang raja-raja masih tetap. Sedangkan, syara’ adalah prinsip pembinaan manusianya dan itu jadi kewenangan Qodli. Ini mestinya dilihat oleh orang-orang sekarang yang memperjuangkan Syari’at Islam itu. Dulu kerajaan-kerajaan Islam itu beda praktiknya. Misalnya Abdur Rauf Singkil, dia itu jadi qodli tapi tidak mengembangkan hukum yang seperti sekarang, hukum positif. Jadi qodli itu punya kreatifitas, punya wilayah ijtihad. Dia guru agama, guru thariqat. Dan dia tidak memisahkan antara fiqh dan hakikat, dan ini Wihdatul Wujud. Jadi ini bukan hukum positif yang pokoknya kalau ada tatanan ini semua orang bisa menjalankan. Jadi ini berbeda. Dan ini kemudian digabungkan adat basandi syara’, syara’ basandi adat. Ini formula mempertemukan dan menyatukan beberapa kerajaan yang tadinya kecil, berpisah dan bagaimana tatanan lama, sistem politik lama dengan satu komunitas Islam yang baru tumbuh menjadi satu bentuk di Aceh. Demikian juga di Jawa. Kerajaan Demak itu masih menggunakan tatanan majapahit, ada kadipaten-kadipaten. Bahkan menurut informasi yang saya terima, Demak itu masih menggunakan undang-undang Majapahit, itu adat. Dan ini sumbernya bukan dari Ibnu Arabi itu. Ini yang kedua. Yang ketiga Wihdatul Wujud melahirkan kreasi-kreasi di bidang kesusasteraan. Naquib Alatas mengatakan sastra nusantara itu ya Hamzah Fansuri. Di bidang bahasa, Syeikh Abdul Rauf telah menerjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa melayu dan juga hadits-hadits, ada banyak karya-karya bidang literer juga. Lalu muncul karya-karya Wihdatul Wujud yang penting dalam pembentukan manusia dalam peribahasa, seperti syara’ basandi adat, adat basandi syara’, syara’ membagi, adat menurun itu kan karya dari Wihdatul Wujud ini Di Jawa ini “ra aku ra ono kowe sing ono awake dewe. Ini Multikultural. Jadi mengembangkan, melebur, meniadakan identitas yang penting aku (aku kecil) dan kamu (kamu kecil) itu tak ada, yang ada kita bersama. Jadi pembentukan identitas. Di satu sisi, ia mengajarkan proses pembentukan manusia yang berdaulat, pribadi yang berdaulat. Tapi di sisi yang lain, pribadi yang berdaulat ini, punya kemampuan untuk berbagi dengan pribadi yang lain untuk membentuk identitas bersama, sintesis. Di sini, Wihdatul Wujud dibangun dengan guyon. Di Arab peradaban dibangun menyesuaikan teks, dengan al-Qur’an, di Barat peradaban dibangun menyesuaikan hitungan akal, di Indonesia ini, ya peradaban manusia Indonesia seutuhnya.

Lalu bagaimana implikasinya terhadap gerakan sosial sebagai pengukuhan identitas manusia di era sekarang?

Itu tugas kita. Salah satu struktur agenda penulisan ulang Wihdatul Wujud ini antara lain adalah tidak lagi menstigmatisasi ini sesat dan menyimpang. Saya baru menyadari misalnya qanon siyasi NU, kyai Hasyim Asy’ari menyatukan fiqh Syafi’i, Maliki, Hanafi, Hambali. Ini kan di Arab bertarung, mereka perang, di sini disatukan, apa artinya? Saya dulu bertanya di mana caranya menyatukan, basis epistemologis seperti apa sehingga orang bisa mentolerir perbedaan antar mazhab ini. Mazhab Hambali yang paling tekstual yang gurunya Ibnu Taimiyah, Hanafi yang rasional, Maliki yang sangat adat, kira-kira begitu, Wihdatul Wujud yang bisa ini, tapi ini nggak ditambahkan. Jadi Wihdatul Wujud itu mainstream di ulama Indonesia. Menurut saya, dari dulu sampai sekarang itu mainstream. Cuma nanti kalau kita mencoba menuliskan ulang, kita harus hati-hati, agar tidak terjebak dalam dikotomi ini anti syari’at, atau ini bukan bid’ah, bukan Pantheisme dan seterusnya. Kita juga mungkin tidak menulis yang sudah ditulis para ulama. Itu kan sangat didaktik, mereka menulis Wihdatul Wujud untuk diajarkan pada santrinya soal aspek perbuatan hidupnya, soal adab hubungan guru dengan murid, soal maqam-maqam yang nanti akan dicapai. Kita tidak akan menulis ini. Lalu apa? Menurut saya, dari segi epistemologi misalnya, kita akan kaya mungkin dari segi filsafat dengan mendialogkan ini dengan Eksistensialisme, mendialogkan ini dengan Rasionalisme, dengan Silogisme, karena itu akan ada, akan bersinggungan sekali dengan Eksistensialisme, dengan logika. Logika akan bertemu dengan filsafat Wihdatul Wujud sampai ke bahasa. Itu agenda yang bisa kita kembangkan. Lalu dengan catatan kemampuan ini untuk mengembangkan manusia yang kreatif, ini dulu ya, manusia kreatif, Hamzah Fansuri meletakkan puitika dalam kalimat, ada yang bergerak dalam bidang kemasyarakatan, Syeikh Siti Jenar itu menata pembagian hak milik dalam masyarakat, adakalanya di bidang pemerintahan, adakalanya dalam membangun solidaritas hubungan antar manusia, ada kalanya hubungan perbedaan identitas lokal, seperti Islam Dayak, Islam Banjar, Islam Melayu, Islam Jawa, Islam Sasak, Islam Bugis, Islam Makasar, ini solidaritas identitas kultural, semboyan persatuan dan kesatuan itu spiritnya mestinya dari sana itu. Seperti persatuan dan kesatuan wahidiyah, wahdah, dan ahadiyah.
nggak bisa menolak. Jadi tugas para agamawan untuk melindungi, mendampingi dan memperjuangkan nasib manusia yang teralienasi dan tertindas oleh sistem yang justru seolah-olah diciptakan oleh manusia itu sendiri. Jadi tantangan para pemikir Islam zaman sekarang menurut saya adalah memikirkan hal ini. masih butuh soal bagaimana mengaitkan HAM dalam konteks keindonesiaan, bagaimana sosialisasi gerakan HAM agar tidak menjadi alienasi baru. Bagi Islam Indonesia seolah itu hal yang baru. Memakai analisa Marxis misalnya tidak menyelesaikan soal. Jadi masalah impor obatnya juga impor, JIL juga begitu, membawa impor Islam Barat untuk melawan Islam Timur Tengah. Hizbut Tahrir itu sama–sama impor. Nah, waktu diskusi di LKiS saya menawarkan kita menulis ulang sejarah

No comments: