Wednesday, September 12, 2007

Puasa untuk Semua


Abd Rohim Ghazali

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa." Inilah ayat utama dalam Al Quran yang menjadi landasan kewajiban menjalankan puasa Ramadhan.

Menurut Asghar Ali Engineer, makna "orang beriman" tak hanya diidentikkan pemeluk keyakinan agama tertentu. Meski kewajiban puasa yang dimaksud ayat itu ditujukan pada umat Muhammad SAW.

"Puasa," lanjut ayat itu, "juga diwajibkan bagi orang-orang sebelum kamu." Artinya, semua umat sebelum Nabi. Semua Nabi dan Rasul membawa titah puasa, meski tak sama mekanisme dan waktu pelaksanaannya. Maka, puasa tak hanya milik umat Muslim. Puasa milik semua umat.

Dalam konteks itulah, puasa bisa dijadikan momentum untuk merajut kebersamaan antarumat beragama—terutama Islam dan Kristen—yang di banyak tempat, termasuk Indonesia, sering mengalami kesalahpaham, bahkan friksi destruktif bagi perkembangan kedua agama ini.

Puasa syariat dan hakikat

Agama, kata Simmel, seperti dua mata pisau. Satu sisi dapat mempererat solidaritas, di sisi lain dapat menumbuhkan konflik sosial. Solidaritas bisa terbangun bila komunitas manusia ada dalam satu payung agama serta konflik mudah terpicu di antara komunitas berlainan agama. Uniknya, baik solidaritas maupun konflik sering dibangun atas dalil-dalil legitimasi agama.

Puasa merupakan salah satu bentuk peribadatan yang masih menyimpan banyak misteri. Ahli spiritualitas Muslim terkemuka, al-Ghazali (wafat 1111 M) dalam Rahasia Ibadah Puasa membahas, mengapa puasa menyimpan banyak misteri. Melalui Rasulullah SAW, Allah SWT berfirman, Setiap perbuatan baik mendapat pahala sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang menentukan pahalanya.

Hadis Qudsi ini menunjukkan, di antara keistimewaan puasa, dibandingkan dengan ibadah lain, terletak pada pahala atau implikasi positifnya. Pahala puasa ditentukan oleh Allah dan manusia tidak ikut andil di dalamnya. Dari Hadis Qudsi ini bisa dipahami, mengapa puasa memiliki hikmah yang kaya dan kadang luar biasa, tak mampu dipahami manusia (misteri).

Kapan puasa bisa mendatangkan hikmah yang sesuai harapan manusia? Ketika dijalankan secara baik, secara syariat (dengan meninggalkan makan, minum, merokok, dan koitus dari fajar hingga matahari terbenam) ataupun hakikat (meninggalkan perkataan dan perbuatan tercela).

Secara syariat, puasa bisa dijalankan siapa saja (orang awam) yang kuat menahan lapar dan haus sekitar 12 jam. Namun, secara hakikat, puasa tidak mudah dijalankan. Menurut al-Ghazali, puasa model ini hanya bisa dijalankan pemeluk Islam yang superkhusus (khawasu al-khawas), yakni mereka yang mampu melakukan pendakian spiritual pada tingkat the highest consciousness, yakni kesadaran nurani untuk sampai pada puasa sebagai disclosure; pengalaman akan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Ke mana pun engkau hadapkan wajahmu, di situlah wajah Allah... (QS 2:115). Demikian antara lain ayat yang menegaskan "kebersamaan" Allah dan manusia yang mampu beribadah secara hakikat.

Untuk semua

Masalahnya, adakah dampak puasa bagi jalinan kebersamaan antarumat beragama? Puasa yang dijalankan secara hakikat akan menampilkan "wajah" dan "sifat-sifat" Tuhan pada pelakunya. Puasa yang dijalankan "hanya" secara syariat belum tentu sampai pada maqam (tingkat) demikian. Nabi bersabda, "Betapa banyak orang yang menjalankan ibadah puasa, tetapi tidak menghasilkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga." Bisa dipahami, meski di negeri ini mayoritas penduduknya menjalankan puasa, tidak berarti orang baik-baiknya mayoritas juga. Masalahnya, masih banyak orang yang oke berpuasa, tetapi bermaksiat pun oke.

Jika demikian, puasa yang dijalankan secara hakikatlah yang paling memungkinkan membuka peluang bagi terjalinnya semangat kebersamaan. Karena mereka yang menjalankan puasa secara hakiki akan meraup hikmah memancarkan "wajah" dan "sifat-sifat" Tuhan. Salah satu sifat Tuhan, seperti ditegaskan dalam doktrin Islam, adalah rahmatan lil’alamin (rahmat bagi semesta) atau dalam doktrin Kristiani sebagai "penyebar kedamaian dan kesejahteraan di Bumi".

Tuhan Maha Pengasih bagi siapa pun tanpa pilih kasih. Setiap pemeluk agama yang menjalankan agamanya, seyogianya bisa mengaktualisasikan sifat Tuhan itu. Dalam konteks kebersamaan tanpa memandang perbedaan agama. Sifat kasih Tuhan bisa dimanifestasikan dalam bentuk toleransi, saling menghormati, bahkan saling menyayangi.

Inti hikmah puasa adalah upaya manusia untuk menuju kehidupan yang makin sesuai dengan fitrahnya, yakni jati diri yang dikehendaki dan/atau yang sesuai sifat belas kasih Tuhan. Itu sebabnya, mengapa seusai menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, umat Islam merayakan Idul Fitri (hari kemenangan bagi kembalinya manusia pada fitrah). Dalam Idul Fitri, umat Islam juga diwajibkan membayar zakat fitrah (sedekah yang harus dikeluarkan sebagai tanda kasih sayang sesama umat). Semakin dekat manusia pada fitrah, semakin ia menyadari adanya kesamaan antarmanusia; semua manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan.

Perbedaan yang ada pada diri manusia hanya atribut lahiriah, yang dalam perspektif keyakinan agama disebut syariat. "Syariat" berasal dari bahasa Arab yang artinya "jalan". Jalan yang ditempuh antara pemeluk agama yang satu dan yang lain bisa saja berbeda. Namun, tujuannya sama, Tuhan. Puasa adalah salah satu jalan menuju Tuhan, siapa pun bisa melakukannya.

Abd Rohim Ghazali Anggota Dewan Penasihat The Indonesian Institute; Direktur Eksekutif The Indonesian Research Institute (TIRI)

No comments: