Sunday, June 17, 2007

Meruntuhkan Singgasana Kiai?
22-3-2007
Oleh : Ahmad Tohari

Dan untuk seorang pemikir seperti Almarhum ZAT, kiranya akan terbukti kebenaran janji-Nya bahwa berfikir sesaat demi kebaikan dan keselamatan manusia, lebih utama daripada bertahun-tahun beribadah. Selamat jalan teman, kau telah kembali kepada asalmu.

Tengah malam hari Selasa 13 Maret 2007 lalu HP saya berbunyi pertanda ada pesan masuk. Sebelum saya lihat HP itu berbunyi lagi beberapa kali. Dan dari pesan-pesan itu saya tahu Zainal Arifin Toha telah meninggal dunia RS Muhammadiyah Yogyakarta karena sakit jantung. Orang muda yang alim dan berbakat ini punya banyak sebutan. Karena anak seorang kiai di Kediri, maka banyak yang menyebutnya Gus Zaenal. Karena sudah punya pondok di Yogya maka banyak pula yang menyebutnya sebagia Kiai Haji Drs. Zaenal Arifin Toha. Tetapi saya, tanpa mengurangi penghargaan atas kedua sebutan itu, lebih suka menyebutnya sebagai Zaenal Arifin Toha (ZAT) saja; satu dan lain hal karena dia bergulat dalam dunia yang sama dengan saya: penulisan.

Sudah banyak buku dan tulisan lepas lahir dari tangan kiai muda ini, baik nonfiksi maupun fiksi. Dan menurut saya tulisan ZAT yang paling mengesankan adalah kumpulan artikel yang dibukukan dalam judul Runtuhnya Singgasana para Kiai. Judul ini sepintas terdengar agak provokatif, bahkan mungkin mengejutkan serta tidak disukai oleh mereka yang tersasar. Tetapi ZAT memang berani; mungkin karena dia sendiri adalah seorang kiai, atau setidaknya anak kiai. Jadi buku itu barangkali dimaksudkan sebagai correction from inside atau otokritik. Atau bayangkan bila buku berjudul seperti itu ditulis oleh mereka yang berlatar belakang nonpesantren; mungkin bisa terjadi protes keras atau demo para santri yang berharap kelak akan jadi kiai. Nah, nyatanya buku itu beredar tanpa menimbulkan riak apa pun, satu dan lain hal karena penulisnya adalah ZAT yang sudah disebut sebagai kiai muda itu.

Runtuhnya Singgasana para Kiai; mengapa dari dari tangan almarhum ZAT lahir buku berjudul demikian? Setelah membaca isi buku itu, ternyata isinya tidak segalak judulnya. Dari seluruh tulisan yang termuat dalam buku tersebut ZAT tidak menganjurkan, misalnya, sebuah revolusi dalam kehidupan para kiai. ZAT justru kelihatan ingin meneguhkan kembali peran dan posisi kiai di tengah umatnya. Repositioning? Mungkin seperti itulah karena ZAT merasa sekarang banyak kiai telah bersinggasana atau sedang berjuang untuk memperolehnya. Padahal seperti khitahnya, kiai adalah pamong umat yang tidak membutuhkan simbol-simbol kekuasaan maupun wibawa itu. Mengapa? Karena simbol-simbol kekuasaan itu akan menciptakan jarak antara kiai dan umatnya, baik dalam arti kias maupun harfi. Posisi kiai jadi elitis dan mengubah pola hubungan mereka dengan umat dari pamong dengan yang di-emong menjadi kepala suku dan anak buahnya. Maka tidak aneh bila banyak orang bertanya, mengapa sekarang justru para kiai yang jadi beban pikiran umat, padahal dulu sebaliknya?

Pertanyaan ini muncul sebagai dampak dari riuhnya pergulatan di ranah politik dan kekuasaan yang dilakukan oleh banyak sekali kiai. Mereka seperti kepala suku yang bertempur memeperebutkan kekuasaan dan meminta para anak buah membantu atau bahkan berkorban untuk mereka. Dalam keadaan seperti ini para kiai peminat singgasana telah keluar dari garis khitahnya sebagai pendamping dan sahabat umat. Mereka benar-benar telah berubah menjadi tuan yang menuntut umat ikut membela kepentingan politik mereka.

Sementara itu masalah yang harus dihadapi oleh umat, terutama di lapisan bawah yang kebanyakan petani, kian berat. Nilai tukar produk pertanian terus merosot, tingkat pengangguran makin tinggi, kualitas pendidikan dan kesehatan yang tetap rendah, lingkungan yang makin parah, adalah masalah-masalah nyata dan mendesak. Namun demikian tidak banyak kiai yang punya kepekaan terhadap kenyataan ini. Alih-alih peka, mereka malah banyak yang sibuk menjadi pengurus partai, membangun singgasana kekuasaan dan membiarkan umat menghadapi kesulitan hidup seorang diri. Mending partai yang dibangun akan mendatangkan manfaat bagi umat; kenyataan selama ini membuktikan bahwa partai tidak mewakili apalagi berpihak kepada umat.

Dalam kepengapan semacam ini mungkin menarik bila saya kemukakan cerita tentang seorang uskup (!) Katolik di Jateng. Pada hari Natal yang lalu saya ingin menemuinya untuk menguccapkan salam balasan. Ya, salam balasan karena pada setiap hari raya Ied, dialah tamu pertama saya yang datang untuk menyampaikan salam lebaran. Nah, di hari Natal itu saya gagal menemuinya. Tanya punya tanya, dia sedang merayakan natal sambil meresmikan jalan kampung di sebuah wilayah miskin yang sangat terpencil.

Saya tidak bermaksud membandingkan para kiai kita dengan sang uskup tadi. Saya hanya merindukan kembalinya khitah kekiaian yang dulu diperlihatkan oleh para kiai. Mereka adalah pendamping dan sahabat, bukan para tuan atau majikan bagi umat. Mereka adalah pamong dunia akhirat yang demikian adanya sehingga tidak memerlukan singgasana kekuasaan. Bahkan mereka tidak butuh wibawa atau pengaruh, sebab keikhlasan yang terpancar dari ilmu dan perilakunya sudah melebihi wibawa dan kekuasaan.

Dan ketika berada dalam nostalgia semacam ini saya teringat kisah tiga orang kiai. Yang pertama, seorang kiai yang biasa naik gerobak dan berkeliling membagi gaplek kepada umat yang kelaparan di musim peceklik. Kedua, seorang kiai yang membimbing para petani membuat minyak goreng dari buah kelapa yang dipetik dari kebun kiai sendiri. Setelah mereka pandai, kiai memberi mereka modal berupa buah kelapa dalam jumlah yang cukup. Ketiga tentang seorang kiai di Brebes yang dulu sering mengendarai andong dan mendatangi rumah-rumah bordil.

Perempuan-perempuan penjaja dibawa pulang, diberi pekerjaan di pesantren, lalu dicarikan jodoh sehingga para pelacur itu bisa kembali ke dunia yang bermartabat. Tapi ya itu tadi; kiai-kiai sahabat umat itu adalah pribadi-pribadi utama yang tidak merindukan singgasana. Yang mereka rindukan adalah bertemu dengan Tuhan yang telah menuliskan alamat-Nya di punggung orang-orang sakit, orang-orang miskin dan dimiskinkan, orang bodoh yang diperbodoh dan orang pinggir yang dipinggirkan. Dan kiranya untuk mengembalikan para kiai ke khitahnya itulah Zaenal Arifin Toha - kiranya dia selalu diberkati - menulis buku Runtuhnya Singgasana para Kiai. Tentu saja dengan harapan, setelah singgasana kekuasaan, singgasana politik, atau singgasana keningratan para kiai itu runtuh, umat akan kembali mendapat pembimbing dan sahabat sejati. Ya para kiai sejati itu.

Dan untuk seorang pemikir seperti Almarhum ZAT, kiranya akan terbukti kebenaran janji-Nya bahwa berfikir sesaat demi kebaikan dan keselamatan manusia, lebih utama daripada bertahun-tahun beribadah. Selamat jalan teman, kau telah kembali kepada asalmu []

* Budayawan tinggal di Purwokerto


No comments: