Sunday, May 27, 2007


Pesona Keagamaan
Haedar Nashir

Ternyata tak mudah jadi orang Islam yang baik. Apalagi jadi Muslim yang cerdas dan cerah diri. Ilmu agama boleh setumpuk gunung, tapi praktik beragama tak seringan kapas. Senyum dan damai mudah ditablighkan, namun pengamalannya tak semudah teorinya. Lantas terjadilah paradoks, kata tak seindah tindakan.

Kini kaum Muslim di negeri ini memang banyak disuguhi oleh begitu banyak sajian keagamaan yang begitu manis dan marak. Penuh pesona keagamaan yang mengharu-biru. Pesona yang menghipnotis umat untuk masuk dalam arena keagamaan populer. Menampilkan agama ringan dan lucu, tak menyentuh dasar dan makna yang aktual. Agama yang memikat publik, sekaligus menjadi magnet para pemilik modal di dunia pasar.

Agama tampil begitu sarat simbolisme. Dzikir berjamaah. Manajemen qalbu. Mujahadah akbar. Islam syariah. Islam politik. Semuanya penuh dengan warna verbalisme. Penuh kesemarakan. Umat dibikin bergairah dan penuh kesyahduan. Dan itu merupakan modal penting bagi umat. Dengan Islam yang tampil simbolik, syariah, dan spritual maka ada bangunan elementer yang menjadi tumpuan.

Namun verbalisme tidaklah mencukupi. Ajaran serba simbol masih memerlukan lembaran ajaran yang memasuki dunia makna. Verbalisme dan simbolisme sekadar berhenti di tataran rukun. Berhenti di simpul-simpul harafiah. Dalam ranah yang paling klasik bahkan skriptural. Asalkan rukun sudah terpenuhi, maka ajaran tertunaikan hingga di situ. Tak perlu dipersoalkan bagaimana makna dan fungsi ajaran secara lebih mendalam dan lebih jauh.

Ambillah contoh, shalat sekadar rukun, cukuplah menjadi urusan pribadi dan alfabeta kewajiban, tanpa diteruskan bagaimana shalat dapat mencegah keburukan dan kemaksiatan. Haji pun demikian, berhenti sebatas rukun dan wajib, minus fungsi kemabruran.

Maka tak mengherankan manakala masih terjadi jurang dan paradoks beragama. Kesemarakan beragama pun masih berhenti pada ranah penuh kembang. Fenomena terakhir bahkan menunjukkan bentuk komoditisasi. Dakwah menjadi bercorak entertainment yang penuh warna dan pesona. Juru dakwah jadi idola di ruang publik ala selebriti. Ada bagusnya tentu saja, tetapi selalu ada ruang kosong yakni makna-makna substantif. Karena kehilangan substansi, maka jangan kaget jika muncul kejutan demi kejutan, idola jadi cemooh publik.

Ideologisasi Islam pun menghadirkan pesona baru. Kegairahan dan optimisme berlebihan mengenai kehadiran Islam politik sebagai solusi dan alternatif dari peminggiran politik Islam santri. Namun seiring dengan berjalannya waktu, satu demi satu Islam ideologis kehilangan daya alternasinya, karena di ranah politik akhirnya sama saja dengan politik sekuler pada umumnya yakni berwatak pragmatik.

Verbalisme lain juga ditampilkan dari sebagian liberalis naif. Teks ajaran serba didekonstruksi dengan nalar positivis Gramscian. Ajaran agama dicurigai selalu memiliki ideologi hegemoni, seolah kehilangan daya autentisitasnya.

Kehilangan fungsi sakralnya. Lalu yang terjadi ekstremitas lain, nihilisme agama. Pada saat yang sama demokrasi, HAM, dan rasionalisme positivisme didewakan dan mengalami absolutisasi seolah jadi agama baru. Lahirlah benturan pemikiran yang sangat tajam mendekati peperangan antara kaum liberalis-sekuler yang radikal melawan kaum Islamis yang sama radikalnya.

Agama dan keberagamaan lantas kehilangan daya pencerahan. Agama menjadi kehilangan alternatif dari hiruk-pikuk serba ekstrem dan radikal, sehingga fungsi transformasionalnya menjadi redup. Para elite Muslim kehilangan energi aktualnya dalam mencari solusi-solusi cerdas atas problem-problem rumit kemanusiaan. Yang muncul banyak kembang gula Islam. Islam begitu meriah, tetapi kehilangan makna substantif. Islam tampak tangguh, tetapi sebatas kegagahan konservatisme. Islam disuarakan kaffah, tetapi yang muncul banyak serpihan.

Karena itu, kini diperlukan langkah lanjutan untuk memberi makna-makna substantif dan fungsi-fungsi aktual dari pemahaman dan gerakan Islam di negeri ini. Masih diperlukan gerak pencerahan ke hal-hal ajaran yang lebih substansial dan intelektual tanpa kehilangan rukun yang matsurah (sesuai Sunnah Rasul) dan autentik sebagaimana pesan utama Alquran untuk membawa Islam sebagai rahmatan lil-'alamin. Perlu ada jalan yang lebih cerdas tetapi autentik dalam menampilkan Islam di negeri mayoritas Muslim ini.

Jika berkutat pada gelora Islam yang verbal, skriptual, dan murah-meriah seperti sekarang ini maka yang terjadi ialah kejumudan. Sebaliknya jika dekonstruksi Islam pun tanpa bingkai ajaran yang kokoh, maka Islam menjadi lepas sekadar pemikiran-pemikiran ala Renaisans di negeri Barat ketika memulai modernisasi. Satu arah ke konservatisme dan Islam komoditi, arah lainnya Islam yang positivisme. Lalu seperti biasanya, yang muncul ialah konflik keras antardua kutub esktrem, sesama penganut radikalisme atau fundamentalisme yang radikal dengan lain baju seperti selama ini terjadi. Umat bukan hanya bingung, tetapi semakin terawamkan dan terseret pada banyak prasangka dan persengketaan teologis.

Kini diperlukan pengendapan untuk memberi ruang bagi pemikiran yang lebih moderat dan menawarkan solusi yang lebih substantif dan aktual. Di satu pihak umat mayoritas memerlukan bimbingan hidup yang lebih pasti tetapi juga cerdas dan mendalam, tidak seperti selama ini yang cenderung dibawa pada agama populer yang dangkal dan kolot. Di pihak lain umat juga memerlukan pemberdayaan di bidang ekonomi, pendidikan, kesadaran dan peran politik yang lebih rasional, dan aspek-aspek lainnya yang berorientasi pada kemajuan. Dengan demikian terjadi peneguhan sekaligus pencerahan.

Cukuplah Islam populer atau entertainment sebatas obat luar yang memberi pelayanan massal kepada umat, selebihnya diperlukan format pembinaan umat yang mengajarkan Islam lebih mendalam dan berkemajuan. Cukuplah da'i populer mengisi ruang publik layar kaca demikian memukau dan memiliki daya magnet tinggi dengan topangan pemilik modal yang berorientasi pasar, kini diperlukan para da'i yang menajamkan mata hati secara berimbang dengan daya nalar. Sebab ternayata kemasan tak selamanya kokoh. Pesona luar akhirnya luntur pula. Bahkan kharisma tokoh yang menghipnotis massa populer akhirnya berakhir hambar, dengan apologia yang tersisa. Kini, sungguh diperlukan gerak pencerahan umat yang lebih autentik, mendasar, dan transformasional.

Islam populer ternyata rapuh terhadap gelombang godaan dan tantangan yang lebih dahsyat. Fenomena pendewaan materi, hawa nafsu, kekuasaan, dan popularitas telah menjebol pagar Islam simbolik nyaris tanpa daya tahan yang kokoh. Lebih-lebih ketika menghadapi kapitalisme yang telah menggurita hampir seluruh relung kehidupan umat manusia saat ini. Orang lalu kembali ke aslinya, ke habitatnya semula, dan topeng pun tersibak ke ruang publik. Pesona keagamaan ternyata ringkih, tak sekokoh dan seindah sebagaimana hipnotika publik.

Jangan-jangan, banyak di antara kita orang Islam selama ini terjebak atau terbuai dalam pesona keagamaan yang ringkih itu. Kendati dari luar kelihatan meriah dan memikat. Apa boleh buat. Itulah wajah Islam Indonesia yang warna-warna dan mungkin belum sepenuhnya akil-balig. Tak perlu disesali, apalagi dingkari. Kini yang diperlukan tawaran-tawaran Islam yang lebih mencerahkan. Islam yang autentik dan berkemajuan. Islam yang lebih moderat dan menawarkan jalan tengah. Bukan Islam sekadar jadi pemblok rasa sakit atau yang serba mengepalkan tangan penuh nada marah dan pertempuran. Apalagi sekadar Islam yang menghadirkan pesona keagamaan di panggung publik, tetapi rapuh dan ringkih.

(Haedar Nashir )

No comments: