Friday, May 25, 2007

Ramadhan, Momentum Menebar Kedamaian

MARHABAN Ya Ramadhan. Lusa, umat Islam akan melakukan ibadah berdimensi mulia; menumbuhkan empati dan kesadaran sosial, terutama kepada sesama yang dimarginalkan secara ekonomi lewat institusi infak dan sedekah. Selain itu, juga menempa diri dengan meredam semua angkara murka dan tindakan radikal-destruktif, serta mengekang bisikan syahwat dan hawa nafsu.

Puasa juga memiliki signifikansi jelas, yaitu ikut mendorong terciptanya perdamaian dan mengikis kekerasan. Visi perdamaian dalam ibadah puasa menuntut untuk menghindari kebencian, kedengkian, provokasi, fitnah, dan sikap permusuhan. Apalagi Islam sendiri secara literal bisa dimaknai sebagai agama perdamaian. Nabi Muhammad Saw telah menyatakan bahwa beliau diutus ke dunia ini dengan agama Islam yang penuh toleran, bu'itstu bi al-hanifiyat as-samhah.

Umar Shabab mengemukakan, puasa merupakan jalan spiritual menuju puncak, yang dalam terminologi imam Al-Ghazali disebut puasanya orang-orang yang istimewa, shaumu khawash al-khawash (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin Juz 1, 1996:344).

Puasa semacam ini mensyaratkan pengendalian diri lahir dan batin, dan puasanya tidak semata-mata diniatkan sekadar untuk memburu pahala tetapi mencari ridha Ilahi. Bukan dalam katagori puasanya orang istimewa jika pada waktu berpuasa, tidak mampu menahan amarah, benci, dan provokasi. “Ramadhan memang selalu dimaknai sebagai sarana yang ideal bagi seorang Muslim untuk menempa dirinya. Jika kesadaran ini telah merasuk ke dalam diri setiap Muslim, maka Ramadhan akan meninggalkan nilai yang sangat bermakna bagi seorang Muslim,”’ ujarnya..

Sebenarnya, kata Umar, Ramadhan bisa menjadi sarana yang efektif untuk melakukan pembinaan dan penempaan diri untuk menjadi lebih baik. Dalam Alquran dinyatakan bahwa melalui puasa di Bulan Ramadhan, seseorang mendapat peluang untuk mencapai derajat takwa.

“Pada tingkatan ini, seseorang selalu terdorong untuk berbuat baik dan menjauhkan diri dari perbuatan tercela. Dengan demikian, seorang muslim mestinya memaknai Ramadhan sebagai kesempatan untuk menempa diri agar mampu mencapai derajat takwa,” jelasnya.

Namun masalahnya, kata Umar, sebagian besar masyarakat Muslim tak menggunakan Ramadhan sebagai media untuk menempa diri. Puasa Ramadhan yang mereka lakukan sebatas ritual. Sehingga puasa itu tak memberikan makna apa-apa dan tak mendorong dirinya untuk melakukan perubahan.

“Ini memang akhirnya dapat diartikan sebagai sebuah pilihan. Makanya di dalam Al Quran Allah memerintahkan kita semua untuk berpuasa Ramadhan dan 'semoga membuat kita menjadi orang yang bertakwa',” tegasnya.

Dalam pernyataan tersebut, lanjut Umar, Allah tak menggunakan kata 'pasti'. Artinya Allah berikan kepada manusia kesempatan untuk memilih. Terserah pada diri manusia sendiri apakah mereka akan memilih derajat takwa atau sebaliknya. “Sehingga kalau seseorang menjalankan puasa sebagai upaya penempaan diri maka predikat takwa bisa saja diraih olehnya. Puasa baginya tak dilakukan sebagai sebuah ritus tahunan fitnah, dengki, dan penyakit hati lainnya,” cetusnya.

Ketua Badan Pembina Rohani Islam Korpri Unit Depnaker, HA Aziz Rifa'i menambahkan, puasa adalah suatu ibadat yang senantiasa dilakukan oleh umat manusia pada umumnya. Puasa menurut syari'at agama Islam, kata dia, merupakan suatu ibadah yang dipilih waktu, saat dan caranya.

“Maka puasa dalam agama Islam merupakan ibadat merata yang diwajibkan kepada para pemeluknya, baik miskin maupun kaya,” ujarnya.

Puasa, kata Aziz, tidak mengenal diskriminasi tingkat dan jabatan, kekuasaan dan kekuatan. Puasa adalah salah satu ibadat yang hanya mengenal manusia sebagai khalifah Allah yang perlu mempertahankan kedudukannya. “Kedudukan khalifah Allah sangat tinggi di permukaan bumi, sangat mulia dan sangat berarti untuk berbakti,” katanya.

Demikian tinggi dan mulianya kedudukan manusia itu, kata Aziz, hingga Allah pernah memerintahkan para malaikat untuk melakukan sujud terhadap manusia pertama Adam as, hanyalah iblis yang membangkang, hingga ia termasuk makhluk yang terkutuk. “Puasa dalam Islam menguji jiwa yang dipengaruhi oleh hawa nafsu angkara murka dan anarkis karena merasakan lapar dan dahaga, dan dipermainkan oleh dunia,” tegasnya. AT


Rakyat Merdeka - Islam @2006

No comments: